Tuesday, February 7, 2017
Bagaimana mungkin
Hanya sebagai tirai
Untuk menutupi perihnya hatiku
Di hari bahagiamu
Selalu terngiang kata-katamu
Kamu mencintaiku
Kamu menyayangiku
Kamu ingin melihatku tersenyum,tertawa, dan bahagia
Namun tanpamu
Bagaimana mungkin
Aku bisa tersenyum
Jika senyumku kau bawa pergi
Bagaimana mungkin
Aku bisa tertawa
Jika tawaku entah kau bawa kemana
Bagaimana mungkin
Aku akan bahagia
Jika bahagiaku ada didirimu
Dan kini aku hanya bisa melihatmu bersamanya
Aku memang tersenyum
Namun tersenyum pahit
Tersenyum getir
Tersenyum sakit
😂😂😂
Bukan dia
Kita berbeda
Kita tak sama
Kita tak seiman
Kita tak sejalan
Dan kita harus berpisah
Aku ingin menyerah
Tapi masih berjuang
Aku ingin lupakan
Tapi tak melupakan
Aku ingin pergi
Tapi masih disini
Sekuat itu cintaku padamu
Sebesar itu sayangku padamu
Padamu yang berbeda iman
Padamu yang tak mungkin aku genggam
Andaikan kau tak punya cinta yang sama
Mungkin akan lebih mudah bagiku melepasmu
Andaikan kau tak berjuang untuk cinta kita
Mungkin rasanya tak akan sesakit ini
Rasa sakit yang kita rasakan
Hanyalah dianggap bodoh oleh orang lain
Cinta yang kita perjuangkan
Hanyalah dianggap sia-sia oleh orang lain
Cinta kita satu
Rasa kita menyatu
Namun
Kita berbeda
Dalam pandangan agama
Kita harus berpisah
Kita harus berpasrah
Biarkan Tuhan yang mengatur
Tak mungkin kita dipertemukan
Hanya untuk merasakan
Derita cinta beda agama
Apa salahku
Saat itu
Saat aku duduk disampingmu
Sangat jelas ditelingaku
Akan janji manismu
Saat itu
Saat kau genggam tanganku
Sangat nyata ucapanmu
Akan impianmu bersamaku
Selang beberapa waktu
Semua telah berlalu
Semua kini berubah
Kau menjauh
Kau menghilang
Entah kau ada dimana
Aku kehilanganmu
Kau pergi begitu saja
Tanpa alasan
Kenapa kau pergi
Kenapa kau lakukan ini
Apa salahku
Apa maksudmu
Berikan aku alasan
Berikan aku jawaban
Agar aku tau
Kenapa kau pergi
Namun
Jika kau tak ingin bicara lagi
Tak ingin menemuiku lagi
Apalah dayaku disini
Yang hanya bisa menunggu
Meski kau tak akan kembali
Biarlah waktu yang menjawab
Monday, February 6, 2017
Cinta beda agama
Kita
Adalah aku dan kamu
Cinta kita
Adalah tentang perasaan kita
Perasaan yang ingin selalu bersama
Perasaan yang tak ingin terpisah
Kita
Kita punya perasaan yang sama
Namun
Itu tak menjamin kita bisa bersatu
Kita beda
Kita tak sama
Mungkinkah kita bersatu??
Atau...
Mungkinkah Tuhan sedang menguji kita?
Apakah kita lebih mencintai Sang Pencipta
Atau kita
Lebih mencintai ciptaanNya
Cinta beda agama
Adalah cinta yang tak ku inginkan
Adalah cinta yang aku sesalkan
Namun
Percayalah
Tuhan selalu punya cara untuk menyatukan umatNya
😂😂😂
Terbuai
Terbuai
Ku akui Aku telah terbuaiTerlalu banyak pilihan
Aku pikir itu menguntungkan
Tapi Ternyata itu awal kehancuran
Aku salah mengambil langkah
Aku mengawali semua dengan kebodohan
Aku terbuai
Aku terlena
Dengan kata2 manis bibirnya
Dengan kata2 merayu memuja
Sungguh aku terbuai
Dan kini aku terjatuh
Tanpa seorangpun mengulurkan tangannya
Kini aku sendiri Orang yang dulu aku pilih, kini memilih yang lain
Andai
Aku tak terbuai
Andai
Aku tak terlena
Mungkin tak kan ada penyesalan seperti ini
Sunday, August 14, 2016
Pacaran Lama Bukan Jaminan Dia adalah Pasangan yang tepat
Pacaran Lama Bukan Jaminan Dia adalah Pasangan yang Paling Tepat, Lho!
Tersesat itu hal biasa, untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Tapi, sadar atau tidak, lebih banyak orang yang tersesat karena tidak punya tujuan yang jelas dalam hidup, termasuk soal cinta. Ketika kamu sedang menjalin hubungan spesial dengan seseorang, pada awalnya pasti indah. Namun setahun dua tahun kemudian, kebosanan mulai merasuk ke hubungan kalian dan pertengkaran lebih sering terjadi, hanya karena hal-hal sepele.
Kalau usia kamu 20-25 tahun, maka kamu dihadapkan kepada tuntutan sosial untuk menikah – atau paling tidak memiliki pasangan yang sudah “jelas”. Berpacaran selama lebih dari satu tahun membuatmu merasa yakin kalau pasanganmu sekarang adalah calon yang tepat untuk dijadikan partner hidup.
Di tengah-tengah tuntutan itu, usia pacaran yang sudah bertahun-tahun dan mulai membosankan, dan cita-cita lain yang belum terwujud, tiba-tiba muncul bayangan orang yang pernah kamu sayang bertahun-tahun yang lalu, yang tidak pernah memberikan jawaban yang jelas. Apakah dia mencintaimu, atau tidak? Dan terpikirlah niat untuk menghubunginya, untuk mencoba menjalin hubungan yang belum sempat terwujud. Pernah mengalami hal seperti ini?
Wajar. Di satu sisi, kamu pasti berpikir bahwa, “Ah, sudahlah. Sama yang ini saja. Toh nyatanya hubungan kami dapat bertahan bertahun-tahun. Lagipula, dia yang disana atau entah dimana itu kan, tidak pernah ada kejelasan. Realistis saja lah.”
Di sisi lain, kamu juga berpikir, “Bagaimana kalau ini kesempatanku satu-satunya? Satu momen “sekarang atau tidak sama sekali” dalam hidup. Bagaimana jika ternyata kalau aku mencoba, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan sejak dulu?”
OKE, SEKARANG KITA COBA UNTUK MENGURAI POIN-POIN PERMASALAHANNYA.
Pertama: Memasuki usia 20-an semakin banyak tuntutan soal jodoh.
Usia 20 tahunan. Tuntutan semakin banyak, tidak ada yang menawarkan solusi. “Jadi mana calon yang mau dikenalin sama mamah?”, adalah salah satu pertanyaan yang membuat orang-orang di usia ini stress berat. Padahal belum ada yang mau dibawa ke rumah. Kalaupun sudah ada, belum tentu yakin.
Kedua: Usia pacaran yang lama bukan suatu jaminan pasti.
Usia pacaran lebih dari satu tahun. Akuilah, semakin lama usia hubungan, semakin sulit pula kita melepaskan. Padahal semakin lama semakin terasa kalau pacarmu yang sekarang bukan orang yang tepat untuk menjadi teman hidupmu selamanya.
Mulai dari percakapan yang semakin datar dan garing, prioritasnya yang dulu kamu jadi bergeser ke yang lain dan kamu diabaikan, mulai muncul kekerasan fisik maupun verbal, dan lain-lain. Tapi kamu takut memutuskan hubungan ini karena sudah lama dan inner circle-mu sudah mengenalnya sebagai calon pasangan hidupmu.
Ketiga: Ternyata ada seseorang di masa lalu yang menurutmu lebih tepat.
Sebenarnya kamu sayang sama orang lain. Tapi tidak ada kemungkinan untuk bersamanya. Mungkin dia meninggalkan kamu dulu sewaktu kuliah di tempat berbeda. Mungkin dia adalah teman terbaik yang tidak pernah jadi pacar.
Mungkin kalian saling sayang tapi waktu kalian selalu tidak tepat. Dan untuk “mengejarnya” sekarang bukanlah tindakan yang rasional karena si dia sudah“out of reach” – beda kota dan lost contact, misalnya.
LALU BAGAIMANA SOLUSINYA? APA YANG HARUS KAMU LAKUKAN?
Pertama: Di usia 20-an seharusnya membuatmu lebih dewasa dalam menyikapi permasalahan.
Justru karena usiamu sudah di atas 20 tahun, semua yang terjadi di hidupmu sekarang menjadi tanggung jawabmu sendiri. Jika ada masalah, selesaikan sendiri. Tidak perlu menjadikan perkataan orang lain sebagai beban, termasuk keluarga.
Berceritalah kepada sahabatmu, atau siapapun orang paling kamu percaya. Mintalah nasihat kepada yang berpengalaman. Kalau orangtuamu berpengalaman tapi cara pandangnya masih “jadul”, cobalah minta saran kepada yang seumuran denganmu.
Kedua: Usia pacaran yang lama bukan jaminan pasti dialah yang terbaik.
Usia pacaran tidak berbanding lurus dengan kualitas hubungan kalian. Kalau memang kamu merasa sudah tidak cocok, putuskan.
Lebih baik sakit sekarang daripada sakit ketika nanti sudah menikah, bukan?Inner circle-mu pasti akan memahami posisimu kalau kamu menjelaskannya kepada mereka. Lagipula, ini hidupmu. Screw what people say. Do what you have to do for you!
Ketiga: Kejarlah cintamu yang sesungguhnya.
Kamu tidak akan tahu sebelum mencoba. Daripada selamanya berandai-andai “Bagaimana ya kalau aku waktu itu menghubunginya? Kira-kira dia mau mencoba sama aku atau tidak, ya?”, dan “bagaimana jika” yang lain.
Pick up your phone, pack your bags, get on the train, go to his/her place, dan cobalah mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu yang belum terjawab selama ini. You only live once. But if you do it right, once is enough.